Kebutuhan Media Pembelajaran Guru Berbasis TIK

If we teach today’s student as we taught yesterday’s, we rob them of tomorrow”

Guru Kutu Loncat

Mungkin terdengar negatif judul tersebut, hal ini dapat dimaklumi karena kata kutu loncat adalah orang yang terbiasa pindah tempat kerja karena menemukan hal yang lebih baik ditepat lain.

Ketika Aku Memilih Menjadi Guru

Menjadi seorang guru bukanlah cita-cita saya sejak kecil.

Berinovasi Keluar dari Zona Nyaman

Ketika revolusi industri di Inggris mulai berlangsung, orang mulai berpikir bahwa hidup itu semakin mudah dengan mekanisasi dan teknologi.

Pembelajaran Bermakna

Pagi itu saya mengajukan pertanyaan ke anak didik, siapa yang ketika sekolah di SD atau SMP mendapatkan tugas dari gurunya untuk menyelesaikan masalah di masyarakat?

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Oktober 2015

Proyek Bakti Siswa untuk Guru Tercinta


Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan model belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. Melalui PjBL, proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum. Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung peserta didik dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya. PjBLmerupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik.
Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda, maka Pembelajaran Berbasis Proyek memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dikatakan sebagai operasionalisasi konsep “Pendidikan Berbasis Produksi” yang dikembangkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK sebagai institusi yang berfungsi untuk menyiapkan lulusan untuk bekerja di dunia usaha dan industri harus dapat membekali peserta didiknya dengan “kompetensi terstandar” yang dibutuhkan untuk bekerja pada bidang masing-masing. Dengan pembelajaran “berbasis produksi” peserta didik di SMK diperkenalkan dengan suasana dan makna kerja yang sesungguhnya di dunia kerja. Dengan demikian model pembelajaran yang cocok untuk SMK adalah pembelajaran berbasis proyek.
Inilah Project Bakti Siswa untuk Guruku Tercinta:

Guru, Mari Belajar Menulis

Sumber gambar : https://spvagoongmanfaat.wordpress.com

Ada tiga hal yang harus dimiliki oleh seorang guru yaitu membaca, menulis dan berbagi. Ketiga hal tersebut ternyata sangat jarang dimiliki oleh guru-guru Indonesia. Membaca menjadi bagian pertama yang tidak dilakukan guru, padahal melalui bacaan bapak dan ibu guru bisa membuka jalan keprofesionalannya. Tunjangan profesi yang diterima tidak serta merta menjadikan budaya membaca meningkat. Bisa dihitung dengan jari berapa guru yang mengikhlaskan sebagian gajinya untuk membeli buku. Budaya membaca yang rendah dikalangan guru berimbas kepada muridnya. Klop sudah keterpurukan itu. Budaya kedua yang jauh lebih susah dilakukan guru adalah menulis. Maka tidak mengherankan ketika Kementerian Pendidikan mewajibkan guru untuk menulis jika ingin naik pangkat ditentang habis-habisan. Mengacu pada Peraturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (Permenpan) No. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, salah satu persyaratan yang harus dipenuhi seorang guru untuk naik ke golongan IV/b harus membuat karya tulis. Berdasarkan aturan tersebut pahlawan tanpa tanda jasa itu harus menerima kenyataan pahit menghadapi dua pilihan  menulis atau tidak naik pangkat yang berimbas pada besaran penghasilan yang diterima setiap bulan. Pada satu sisi kebijakan itu tentu merugikan , tetapi jika menggunakan kaca mata positif tentu ada manfaat dan pertimbangan matang yang melatarinya.
Kompetensi menjadi kata kunci mengapa guru suka atau tida harus mulai membiasakan diri untuk menulis. Sosok yang setiap hari mendedikasikan  1/3 waktunya  mendidikan dan mencetak generasi bangsa mendatang memang dituntut menjadi figur yang tidak hanya rajin membaca,  mengajarkan ilmu yang dibaca, namun juga tajam mengasah pikiran untuk dituangkan dalam kata demi kata hingga kalimat.
Bisa jadi ada yang menilai tuntutan ini berlebihan, beban mengajar sudah sedemikian padat, belum lagi mendidik moral dan prilaku pelajar, di rumah guru pun harus menjalankan tugas domestiknya mengapa harus ditambah beban mereka. Benar, pada satu sisi terlihat berat, namun jika kita ingin melihat jauh ke depan ini menyangkut masa depan bangsa ini 10-20 tahun ke depan.
Korelasinya adalah jika pendidik memiliki kemampuan menulis yang baik, kemudian menularkan kepada siswa tentu akan lahir anak-anak muda berbakat yang ditangan mereka yang menentukan nasib bangsa yang juga akan mempengaruhi kehidupan guru di hari tua. Jadi sebenarnya melatih diri untuk terampil menulis adalah sebentuk investasi di hari tua.
Proyek Bakti Kami untuk Guru Tercinta dengan membuatkan bapak dan ibu blog oleh anak-anak Kelas X Multimedia SMK Negeri 8 Semarang adalah bagian dari upaya mendorong bapak dan ibu guru untuk berlatih menulis. Belajar menulis melalui blog akan membuat kemampuan menulis bapak dan ibu meningkat yang pada akhirnya membuat tulisan untuk karya pengembangan profesi tidak lagi menjadi momok yang menakutkan. 
Untuk komponen yang berbagi, ah nanti dululah, masih jauh karena sekarang saatnya membaca dan menulis dulu. 

Sabtu, 24 Oktober 2015

Pembelajaran Bermakna


Pagi itu saya mengajukan pertanyaan ke anak didik, siapa yang ketika sekolah di SD atau SMP mendapatkan tugas dari gurunya untuk menyelesaikan masalah di masyarakat? Pertanyaan ini membingungkan anak didik sehingga saya perlu memperjelas dengan memberikan sedikit pengantar. Anak-anak kalian pernah belajar materi IPA? Kompak mereka menjawab pernah. Pernahkah kalian praktek menjernihkan air? Sebagian besar menyatakan pernah. Pertanyaan lanjutan dari saya, pernahkan kalian membantu masyarakat yang airnya kotor dengan menerapkan materi IPA tadi? Mereka kompak menjawab tidak pernah. Pertanyaan yang sama saya ajukan juga untuk materi Matematika, Bahasa Indonesia, dll. Dari situ muncul satu kesimpulan bahwa guru tidak mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata di masyarakat. Akibatnya terjadi jurang pemisah yang lebar antara pendidikan di sekolah dengan permasalahan di masyarakat. Para ahli pendidikan mengatakan kondisi ini dengan istilah pendidikan yang tidak membumi. Pertanyaan selanjutnya saya kepada siswa adalah apakah kalian terkesan dengan pembelajaran seperti itu? Mereka kompak menjawab tidak. 
Sekolah bukanlah semata-mata persiapan untuk kehidupan di masa depan tetapi sekolah adalah kehidupan itu sendiri.
Demikian sebuah ungkapan seorang tokoh pendidikan yang menarik untuk kita cermati berkenaan dengan membangun kebermaknaan dalam pembelajaran atau sekolah. Memiliki sebuah arti atau kebermaknaan dalam belajar menjadi salah satu faktor yang kuat dan juga menentukan dalam keberhasilan pendidikan. Seorang anak akan bersungguh-sungguh mengikuti proses pembelajaran ketika dia memahami tujuan, manfaat serta keuntungan dari proses pembelajaran tersebut bagi dirinya. Kebermaknaan yang ia miliki merupakan sumber motivasi kesungguhan belajarnya. Sedangkan siswa yang tidak punya arti proses belajar bagi dirinya sendiri, akan tercermin dari perilaku misalnya kurang respon terhadap materi di kelas, prestasi yang biasa saja, bahkan melakukan pelanggaran.
Apabila dikembalikan kepada hakikatnya, manusia adalah makhluk bermakna, apapun yang dilakukan oleh manusia harus berdasar dan memiliki makna tertentu. Untuk itulah upaya membangun kebermaknaan dalam proses pembelajaran merupakan sesuatu yang harus ada (conditio sine quanon). Kebermaknaan dalam proses pembelajaran dapat ditanamkan dan dibangun sesuai dengan tingkat penalaran peserta didik dengan berbagai metode atau pendekatan. Kebermaknaan yang dibangun haruslah menyeluruh, utuh (holistic), dan mendasar (substantif) yaitu meliputi hal yang kasat mata maupun yang abstrak, imanen maupun transenden.
Setiap hari bagi anak adalah pengalaman baru, dan pengalaman hidup. Pengalaman juga merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh manusia dalam proses pembentukan kedirian dan kepribadiannya. Pastikan setiap anak selalu ingin menambah pengalaman yang positif dan penuh makna dalam hidupnya. Siswa yang banyak pengalaman yang berasal pembelajaran di sekolahnya akan berguna dalam kehidupannya kelak saat terjun di masyarakat. 
Dalam belajar apapun, belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. Agar  bermakna, belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca, bertanya, menjawab, berkomentar,mengerjakan, mengkomunikasikan, presentasi, diskusi). Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sungtulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya), ing madyo mangunkarso (dalam pembelajaran membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk), tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri). Selanjutnya, Vernon A Madnesen (1983) dan Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana belajar. Jika belajar hanya dengan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%, dari mendengar 20%, dari melihat 30%, mendengar dan melihat 50%, mengatakan-komunikasi mencapai 70%, dan belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan bisa mencapai 90%. Dari uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal, tidak cukup dengan mendengar dan melihat, tetapi harus dengan action siswa dengan segala aktifitasnya. Inilah kebermaknaan belajar yang saya terapkan melalui proyek Bakti Siswa untuk Guru Tercinta melalui pembuatan blog untuk guru-guru Se-Kota Semarang. Melalui proyek ini saya ingin anak didik memberikan manfaat kepada banyak orang dari hasil dia belajar. Semoga proyek ini mampu menanamkan karakter positif anak didik dan mampu memberikan sumbangsih untuk kemajuan pendidikan. Selamat berbakti untuk guru tercinta kalian anak-anakku yang hebat.

Berinovasi Keluar dari Zona Nyaman


Ketika revolusi industri di Inggris mulai berlangsung, orang mulai berpikir bahwa hidup itu semakin mudah dengan mekanisasi dan teknologi. Pencetus ide revolusi industri yang pasti bukan orang yang nyaman dengan kemapanan. Segelintir orang yang menggunakan kemampuan olah pikirnya untuk terus berusaha mengatasi masalah dalam kehidupan masyarakat. Satu persatu teknologi tercipta mulai dari mesin uapnya james watt sampai teknologi mesin dua tak utk menggerakkan kendaraan. Para penemu ini ingin membuat hidup lebih mudah dan menyenangkan. Bayangkan saja jika telepon atau surat tidak ditemukan mungkin orang susah berkomunikasi dalam jarak yang jauh. Kita harus berterima kasih kepada mereka para penemu, tidak hanya dalam bentuk ucapan tetapi mewarisi sifat mereka yang pantang menyerah dalam berinovasi. Ide dan gagasan harus menjadi menu wajib untuk terus dikembangkan. Melalui inovasi dan pengembangan gagasan akan tercipta penemuan-penemuan baru dalam kehidupan. Seperti yang sekarang kami lakukan dengan membuat inovasi dalam pembelajaran melalui kelas online. Hasilnya sungguh menakjubkan. Dalam kurun waktu kurang dari satu hari separuh materi bab pertama terselesaikan. Sungguh diluar bayangan saya. Inilah inovasi yang kami kembangkan dalam pembelajaran di multimedia. Kecepatan dalam belajar menjadi ikon jurusan. Belajar di multimedia menjadi cepat, mudah dan menyenangkan. Ketika yang lain baru memulai, anak MM sudah menguasai separo materi, ketika yang lain beranjak jalan anak MM sudah mahir dengan materi yang dipelajari. Ketika yang lain mulai memahami materi, anak MM sudah mampu menghasilkan produk dari materi itu. Kami ingin setiap anak MM menjadi leader dan rujukan teman-temannya dalam belajar. Sebuah harapan yang pasti terwujud dalam waktu dekat, semoga.

Ketika Aku Memilih Menjadi Guru


Menjadi seorang guru bukanlah cita-cita saya sejak kecil. Menjadi guru karena keterpaksaan saya atas kecerobohan mengambil pmdk di IKIP Semarang. Iseng mengambil formulir pmdk untuk sekedar coba-coba ternyata dipilih oleh Allah untuk masuk IKIP. Perguruan Tinggi kelas dua, julukan IKIP saat itu menjadi alasan saya untuk tidak memilihnya. Tetapi ultimatum kepala sekolah bahwa pmdk harus diambil demi kelanjutan program bagi sekolah memaksa saya untuk menerima. Itulah kelemahan manusia yang tidak bisa menebak masa depan. Hiruk pikuk kuliah dan seabreg aktifitas kampus melupakan rasa keterpaksaan itu. Pilihan masuk IKIP ternyata menjadi pilihan yang paling realistis karena murah dan terjangkau. Kuliah di IKIP saya jalani 9 semester. Suka dan duka karena keterbatasan dana dan harus banting tulang cari uang untuk biaya kuliah menjadi bagian dari romantika kehidupan. Kecerdikan mencari beasiswa dan rajin sebagai aktifis kampus sehingga dekat dengan dosen dan petinggi fakultas serta jurusan merupakan ilmu tersendiri yang bermanfaat di kemudian hari. Singkat cerita jadilah saya seorang guru. Seseorang yang harus setia di depan kelas memberi ilmu untuk murid-muridnya. Dan saya bahagia menjadi pengubah nasib anak bangsa.

Kebutuhan Media Pembelajaran Guru Berbasis TIK



“If we teach today’s student as we taught yesterday’s, we rob them of tomorrow” (Apabila kita mengajar siswa hari ini dengan cara kita belajar kemarin, maka kita merampok masa depan mereka)” . Pendapat itu saya kutip dari John Dewey seorang filsuf dari Amerika Serikat, yang dikenal sebagai kritikus sosial dan pemikir dalam bidang pendidikan.
Jaman kita dulu tentu sudah berbeda dengan jaman siswa kita sekarang. Dulu kita belum mengenal apa itu laptop, gadget, smartphone, dan alat canggih lainnya, sementara sekarang siswa kita sudah mahir dengan peralatan tersebut. Maka tidak heran jika Justin Raetner, CTO Intel mengatakan bahwa “perkembangan teknologi di 100 tahun ke depan sama nilainya dengan perkembangan yang terjadi selama 20.000 tahun sebelum ini ”.
Perkembangan ini tentu harus dibarengi dengan perubahan mind set guru. Di jaman yang serba canggih ini, anak-anak menerima informasi yang berlimpah dari berbagai sumber seperti Radio, Koran, Majalah, Televisi dan Internet. Jika dulu hanya guru yang menjadi pusat perhatian, maka sekarang konsentrasi anak dalam belajar tidak hanya satu sumber tetapi dari berbagai sumber. Untuk itu guru harus memahami kondisi ini dengan mengembangkan pembelajaran yang menarik dan inovatif sehingga konsentrasi anak bisa diarahkan untuk belajar.
Salah satu hal yang dapat dilakukan guru untuk menarik minat anak dalam belajar adalah penggunaan media dalam pembelajaran. Arief S. Sadiman, dkk (1984) mengemukakan bahwa kata media berasal dari bahasa Latin yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan, sedangkan Latuheru(1988:14), menyatakan bahwa media pembelajaran adalah bahan, alat, atau teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukasi antara guru dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna

Guru Kutu Loncat


Mungkin terdengar negatif judul tersebut, hal ini dapat dimaklumi karena kata kutu loncat adalah orang yang terbiasa pindah tempat kerja karena menemukan hal yang lebih baik ditepat lain. Seperti seorang Tika Bisono misalnya, ia menjadikan sifat berpindah perusahaan ini sebagai salah satu strateginya dalam berkarir. “Saya selalu melihat semua pekerjaan itu ada aspek psikologinya. Semua hal yang saya geluti selalu baru tetapi tidak kehilangan hubungan dengan psikologi, itu merupakan syarat utama saya. Saya merencanakan ini sebenarnya sejak lulus S1, tahun 1985. Rencana saya adalah saat itu saya masih berusia 24 tahun, saya menghitung enam tahun, hingga usia 30 tahun itu adalah proses belajar di perusahaan sambil berjualan kompetensi. Dan perusahaan yang saya masuki itu harus MNC untuk mengejar relasi di tingkat internasional juga. Usia 30-40 itu harus yang mulai naik, start doing-doing something.” (dikutip dari Human Capital no.10 th 2005).
Selain Tika, ada pula Daniel Rembeth, seorang tokoh periklanan yang mulai menapaki karirnya dari agency ke agency lain, seperti Matari, BBDO, AdWork, kemudian menjabat sebagai Managing Director di TCPTBWA. Kini ia meraih kesuksesannya sebagai pemimpin perusahaan The Jakarta Post.
Dan, contoh lainnya, adalah Budi Hamidjaja. Yaitu pemilik dari bisnis restoran siap saji California Fried Chicken (CFC). Ia memulai karirnya dengan bekerja di Rothmans of Pall Mall Australia, kemudian oleh perusahaan yang sama ia dikirim ke Indonesia menjadi National Sales Training Manager, sebelum akhirnya ia meloncat ke Philip Morris Asia, Inc sebagai Sales Operation Manager hingga menduduki jabatan Field Operation Manager di perusahaan yang sama. Tidak sampai disitu, perjalanan karirnya diteruskan dengan bergabung di PT. Lippoland Development, lalu PT. Putra Surya Perkasa hingga pada akhirnya ia mendirikan PT. Pioneerindo Gourment, Tbk.
Tapi istilah kutu loncat Tika Bisono, dkk sangat berbeda dengan saya karena saya tetap setia dengan pekerjaan yaitu seorang guru. Kutu loncat dalam hal ini adalah mengajar tidak dalam mapel yang sama dengan sarjana. Kebetulan saya lulus S1 Pendidikan Kimia, tetapi saya bereksplorasi mulai dari Fisika, matematika, IPA dan akhirnya terdampar di Komputer. Suatu ketika saya pernah di”marahi” teman-teman fisika karena saya satu-satunya sarjana kimia yang melamar Program Guru Bantu Guru Fisika. Sekian tes saya lewati dan mampu menyisihkan sarjana fisika. Demikian pula ketika saya lolos sebagai CPNS dengan kualifikasi guru kimia. Menghadap kepala sekolah saya diminta mengajar komputer. Meloncat lagi dari guru Fisika menjadi guru komputer. Tantangan kepala sekolah saya jawab dengan kesiapan walaupun setelah itu saya harus banting tulang belajar materi baru. Pelan tapi pasti berhasil saya lewati. Itulah sekelumit pengalaman, semoga bisa memberi pencerahan kepada teman-teman guru yang “galau” dalam menghadapi materi baru yang berbeda dengan basic S1nya.

Kamis, 01 Oktober 2015

Peningkatan Kemampuan Siswa dalam Membuat Kerajinan Paper Quilling melalui Media Video Tutorial pada Siswa Kelas X SMALB-B SLB Negeri Semarang Semester 2 Tahun 2014/2015


Latar belakang penelitian tindakan kelas didasarkan permasalahan yang ada di kelas X SMALB-B SLB Negeri Semarang semester 2 tahun 2014/2015 pada pelajaran keterampilan kerajinan tangan paper quilling yaitu nilai praktik siswa yang kurang dari indikator RPP.
Tujuan dilakukan penelitian tindakan kelas adalah untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa kelas X SMALB-B SLB Negeri Semarang semester 2 tahun 2014/2015 pada aspek kemampuan menghasilkan jumlah produk dan jumlah warna kertas yang digunakan, peningkatkan keaktifan siswa dalam aspek sikap dan perilaku saat menyaksikan video tutorial, peningkatan keaktifan  siswa aspek penyiapan bahan/alat dan aspek kemampuan pada proses pembuatan benda kerajinan paper quilling setelah menggunakan media video tutorial.
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian ini adalah kemampuan siswa pada pembelajaran kerajinan paper quilling. Objek penelitian adalah siswa kelas X SMALB-B SLB Negeri Semarang semester 2 tahun 2014/2015 sebanyak 9 siswa. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan secara berulang sebanyak  dua siklus. Setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan (tiap pertemuan terdiri dari 4 tahapan kegiatan, yaitu: perencanaan/persiapan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi dan lembar penilaian hasil tugas praktek. Analisis data yang digunakan adalah descriptive persentase dengan tehnik analisis skor gain (nilai akhir setelah dilakukan tindakan dikurangi dengan nilai kondisi awal).
Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh hasil penelitian yaitu ada peningkatan kemampuan siswa kelas X SMALB-B SLB Negeri Semarang semester 2 tahun 2014/2015 dalam membuat kerajinan paper quilling setelah menggunakan media video tutorial untuk aspek kemampuan menghasilkan produk sebesar 77,61 % dan peningkatan kemampuan menggunakan warna kertas sebesar 80,30 %. Ada peningkatan keaktifan siswa aspek sikap sebesar 71,87% dan aspek perilaku 63,26 %. Peningkatan juga terjadi pada aspek keaktifan siswa menyiapkan bahan sebesar 68,91% dan aspek membuat benda kerajinan sesuai tahapan sebesar 63,62%.
Kesimpulan adalah ada peningkatan kemampuan siswa kelas X SMALB-B SLB Negeri Semarang semester 2 tahun 2014/2015 dalam membuat kerajinan paper quilling melalui video tutorial.  Saran bagi guru adalah untuk meningkatkan kemampuan keaktifan dan kreativitas siswa SMALB-B pada pembelajaran kerajinan paper quilling, dapat digunakan video tutorial sebagai alat peraga pembelajaran yang menarik, efisien, memiliki materi yang mudah dipahami, dan tampilan menarik dan dapat digunakan berulang-ulang.
Kata Kunci : Kemampuan siswa, Kerajinan  paper quilling, Media video tutorial

Jumat, 25 September 2015

Pubersitas Desain Pembelajaran Kreatif di SMK Negeri 8 Semarang



Best Practice ini dilatarbelakangi oleh hasil belajar pada mata pelajaran produktif multimedia di SMK Negeri 8 Semarang yang rendah. Salah satu solusinya adalah menerapkan pembelajaran yang inovatif, yaitu Pubersitas. Permasalahannya adalah (1) bagaimana penerapan Pubersitas dalam meningkatkan prestasi belajar di SMK Negeri 8 Semarang?, dan (2) bagaimana hasil dan dampak dari penerapan Pubersitas di SMK Negeri 8 Semarang?.
Penerapan Pubersitas dilakukan dengan empat langkah yaitu (1) penguatan kompetensi, (2) penggunaan buku pintar pelajar, (3) pelaksanaan kompetisi dan (4) pengembangan komunitas berbagi. Hasil yang dicapai antara lain (1) mampu meningkatkan kemampuan atau kompetensi siswa dalam penguasaan materi pembelajaran produktif, (2) aktifitas belajar siswa terkontrol dan bermanfaat bagi orang tua untuk memantau perkembangan prestasi belajar anaknya,                        (3) menghasilkan website  sekolah di Kota Semarang dan sekitarnya. Pelaksanaan Pubersitas di SMK Negeri 8 Semarang memberikan dampak antara lain (1) mampu menghasilkan juara di berbagai lomba antar sekolah, (2)  mampu menginspirasi teman-teman guru untuk menerapkan pembelajaran inovatif,  (3) mampu meningkatkan pencitraan sekolah.
Kendala yang dihadapi antara lain (1) masih ada peserta didik yang memiliki disiplin belajar yang rendah dalam pengisian buku pintar pelajar, (2) Jumlah jam mengajar rata-rata di atas 25 jam sehingga sulit untuk berinovasi, (3) Kapasitas bandwich internet yang kurang besar dan (4) Timing project yang tidak selalu tepat waktu.
Pubersitas  ini telah  terbukti efektif dalam meningkatkan kompetensi dan karakter peserta didik. Disain pembelajaran ini dapat dicontoh oleh guru lain. Contoh penerapan Pubersitas untuk mata pelajaran IPA dengan materi cara memisahkan campuran dapat dilakukan guru IPA dengan membuat video pembelajaran cara menjernihkan air, membuat buku pintar pelajar untuk mengontrol belajar siswa dan memberikan proyek penjernihan air di sekolah atau masyarakat yang membutuhkan air bersih.
Selanjutnya, dari best practice ini penulis memberikan saran: (1)  guru harus selalu melakukan inovasi pembelajaran, (2) kepala sekolah harus memfasilitasi guru dalam dalam menciptakan inovasi pembelajaran, (3) kerjasama pembuatan website dengan sekolah, dan kepada Dinas Pendidikan dan Pemerintah Daerah untuk mendukung program pembuatan website sekolah dalam bentuk penyediaan hosting dan domain untuk jangka waktu lama.

Minggu, 16 Agustus 2015

Sudahkah Pendidikan Kita Merdeka?


Besok adalah tanggal 17 Agustus, tanggal dimana pertama kali Soekarno dan Hatta mewakili bangsa Indonesia menyatakan diri sebagai negara merdeka. Merdeka sebagai kata magic yang mampu menggerakkan setiap potensi bangsa ini di seluruh pelosok untuk bersatu. Merdeka menjadi kata sakti yang terus dipertahankan dari tahun ke tahun dan tidak terasa besok adalah mempertahankan kemerdekaan ke 70. Perayaan ini disambut meriah di setiap kampung. Tanpa digerakkan, orang tua, anak muda, ibu-ibu bahu membahu menghias kampung dan menyelenggarakan tirakatan malam ini.
Angka 70 kali kita mempertahankan kemerdekaan apakah benar-benar sudah mampu membebaskan? Membebaskan dari jurang kemiskinan?  membebaskan dari penindasan hukum?  membebaskan dari arogansi? Beruntun pertanyaan ini seakan perlu jawaban yang kadang tidak perlu memuaskan. Mari kita lupakan sejenak berita yang berseliweran di sekitar kita, berita tentang kartel sapi, berita tentang arogansi motor gede, berita tentang resufle kabinet. Mari kita kembali ke khittah kita sebagai guru. Apakah kita sudah mampu membebaskan anak didik kita dari kegagapan menghadapi mata pelajaran yang diberikan? Untuk menjawab pertanyaan itu, saya mengambil tulisan sedikit tentang kondisi pendidikan kita. Kita perlu malu jika di mata dunia, mutu pendidikan Indonesia ternyata masih rendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya, khususnya di Asia Tenggara. Berdasarkan data The Learning Curve Pearson 2014 sebuah lembaga pemeringkatan pendidikan dunia, memaparkan jika Indonesia menduduki posisi bontot alias akhir dalam mutu pendidikan di seluruh dunia. Indonesia menempati posisi ke-40 dengan indeks rangking dan nilai secara keseluruhan yakni minus 1,84. Sementara pada kategori kemampuan kognitif indeks rangking 2014 versus 2012, Indonesia diberi nilai -1,71. Sedangkan untuk nilai pencapaian pendidikan yang dimiliki Indonesia, diberi skor -2,11. Posisi Indonesia ini menjadikan yang terburuk. Di mana Meksiko, Brasil, Argentina, Kolombia, dan Thailand, menjadi lima negara dengan rangking terbawah yang berada di atas Indonesia.  Sekadar informasi, pada 2012, mutu pendidikan Indonesia juga berada di posisi terbawah, bersama dengan Meksiko dan Brasil. Indeks ini pertama kali diterbitkan pada November 2012, dan diperbarui dengan data terbaru pada Januari 2014.
Membaca data tersebut tentu kita sebagai guru merasa miris, sedemikian parahkah anak didik yang kita ajar dengan kualitas seperti itu? Mari kita coba instrospeksi dan berbenah diri, apa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia? Sekedar berpendapat saja, salah satu penyebab adalah rendahnya efektifitas pendidikan. Ibarat main bola, kita seperti oper mengoper bola tanpa tahu gawang musuh dimana.  Pendidikan yang efektif adalah pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan.
Selama ini, banyak pendapat beranggapan bahwa pendidikan formal dinilai hanya menjadi formalitas saja untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia. Tidak peduli bagaimana hasil pembelajaran formal tersebut, yang terpenting adalah telah melaksanakan pendidikan di jenjang yang tinggi dan dapat dianggap hebat oleh masyarakat. Anggapan seperti itu jugalah yang menyebabkan efektifitas pengajaran di Indonesia sangat rendah.
Bertepatan dengan momen 70 tahun Indonesia Merdeka, mari kita para guru memeriahkan HUT itu dengan memberikan layanan terbaik kepada siswa berupa pembelajaran yang mudah, menyenangkan dan mencapai tujuan. Ibarat bermain bola, mari kita sebagai pelatih memberikan instruksi yang mudah dicerna pemain, efektif dalam bermain dan ujungnya membobol gawang lawan. Jika setiap guru mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan di kelas maka gairah belajar siswa pasti meningkat dan pada akhirnya kita sebagai bangsa tidak malu dengan bangsa lain, semoga.

Rabu, 04 Januari 2012

Resolusi Juara 2012

Lomba Blog Resoluasi Juara Speedy
Memasuki tahun 2012 tidak terasa 12 tahun sudah saya menjadi guru. Menjadi guru itu gampang-gampang susah. Mengampu pelajaran tertentu yang telah ditekuni sekian lama dan terus berulang tentu bukanlah pekerjaan sulit. Namun menghadapi murid yang selalu berganti tiap tahun, memiliki karakter berbeda, dan tingkat penyerapan terhadap materi pelajaran yang tak sama, pasti membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi. Guru yang tak sabar dan kurang telaten akan terkurung oleh frustasi. Profesi mulia sebagai guru terasa sebagai sebuah beban yang terus menghimpit. Bisa-bisa guru menjadi stres. Padahal guru dalam berbagai sisi menjadi ukuran nilai yang darinya murid bercermin untuk merangkai makna keteladanan.
Saya teringat dengan kalimat sakti dari Charlie Ward bahwa Guru yang biasa-biasa saja memberi tahu. Guru yang baik menjelaskan. Guru yang bagus menunjukkan bagaimana caranya. Tetapi guru yang luar biasa menginspirasi murid-muridnya. Saya ingin mendapatkan level tertingi sebagai guru yaitu guru inspiratif. Angan saya untuk menjadi Guru inspiratif memang tidak dengan sendirinya muncul. Sebab, institusi pendidikan pencetak guru pun tak pernah membekali kemampuan seperti itu. Karenanya, guru inspiratif harus dibentuk. Salah satu faktor pemantiknya adalah menjaga komitmen untuk terus memberi spirit kreatif-inspiratif kepada para siswa. Dengan spirit ini, guru dapat menciptakan manusia unggul yang penuh dengan kreativitas dan kemampuan kompetitif.
Di sisi lain, dari unsur internal menjadi guru inspiratif harus memenuhi sejumlah syarat. Di antaranya, menyukai tantangan dengan terus belajar. Perubahan zaman yang ditandai dengan perkembangan teknologi informasi begitu cepat semestinya segera direspons guru. Dengan terus belajar, guru inspiratif senantiasa memperbarui khazanah pengetahuannya. Dengan cara inilah ia memiliki kapabilitas dan kompetensi, baik secara personal maupun sosial yang mumpuni.
Hasrat terus belajar, kapabilitas, dan kompetensi personal-sosial masih perlu didukung dengan kreativitas guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang inspiratif. Jika cara mengajar dan apa yang kita ajarkan kepada murid-murid kita hari ini sama saja dengan yang kemarin, maka kita merampas masa depan anak didik kita tersebut. Dalam iklim demikian, guru dapat menarik minat siswa untuk senang terhadap pelajaran. Rasa senang inilah yang menjadi modal penting dalam diri siswa untuk menekuni dan menggeluti pelajaran secara lebih optimal. Selain itu, rasa senang juga akan menghilangkan kejenuhan dan kemalasan sehingga mereka akan bergairah dan senantiasa penuh semangat dalam belajar.
Terus mengganjal di pikiran saya kenapa kemajuan pendidikan sulit didapat ? Pertanyaan yang klise dari tahun ke tahun. Di awal tahun 2012 ini dan mengawali pelajaran di semester dua saya mencoba mengetahui penyebab dari semua itu. Saya menyebarkan angket kepada murid-murid saya tentang pandangan mereka terhadap performa bapak dan ibu guru yang mengajar ? Angket itu berisi 3 pertanyaan, yaitu 1) Apakah anda tertarik dalam mengikuti pelajaran, 2) Apa yang paling membuat anda tidak tertarik dalam mengikuti pelajaran ?, 3) Metode apa yang paling sering dipakai guru dalam mengajar ?
Sebuah angket yang mungkin sangat jauh dari segi kevalidan dan reliabel. Angket tersebut adalah angket terbuka dengan jawaban yang bebas. Hasil dari angket tersebut saya rangkum sebagai berikut :
Untuk pertanyaan pertama :
  1. 85% anak mengatakan tidak tertarik mengikuti pelajaran
  2. 10% anak mengatakan cukup tertarik
  3. hanya 5% anak mengatakan tertarik.
Untuk pertanyaan kedua :
  1. 70% anak mengatakan bosan dengan cara guru mengajar
  2. 10% anak mengatakan pelajarannya sulit
  3. 8% anak mengatakan gurunya tidak asyik
  4. 12% anak mengatakan tidak tahu
 Untuk pertanyaan ketiga :
  1. 95% anak mengatakan guru mengajar dengan metode ceramah
  2. 5% anak mengatakan guru mengajar dengan metode selain ceramah.
Mengacu pada hasil angket di atas, kita tentu prihatin dengan kondisi tersebut. Jangan kita menyalahkan anak yang tidak mau belajar karena cara mengajar kita tidak menarik dan disukai anak. Sangat maklum jika prestasi anak-anak didik kita bukan semakin baik tetapi semakin mundur. Itu kondisi riil di sekolah kita. Kondisi yang kurang baik itu tentu harus kita ubah.
Untuk itu memasuki tahun 2012 saya mencoba membuat sebuah gebrakan pembelajaran. Saya mencoba membuat terobosan pembelajaran yang menarik minat dan motivasi siswa. Salah satu yang ingin saya coba adalah membuat pembelajaran tanpa sekat ruang dan waktu. Apa itu? pembelajaran tanpa sekat ruang dan waktu adalah pembelajaran yang diciptakan dengan kondisi dimana siswa dapat belajar kapan saja dan dimana saja. Bisa di sekolah pada waktu jam pelajaran, di luar jam pelajaran atau di rumah.
Untuk membangun Pembelajaran tanpa sekat ruang dan waktu, ada beberapa hal yang harus saya persiapkan antara lain infrastruktur yang mendukung dan membuat konten atau isi dari pembelajaran itu. Secara panjang lebar akan saya jelaskan sebagai berikut :
Peralatan yang mendukung pembelajaran tanpa sekat ruang dan waktu
Infrastruktur yang mendukung Pembelajaran tanpa sekat ruang dan waktu adalah koneksi internet. Hal ini disebabkan karena semua konten yang akan diakses oleh siswa terdapat di server internet. Saat ini sekolah kami telah didukung oleh jaringan internet yang sangat memadai baik itu sistem kabel melalui LAN atau wireless melalui hotspot area. Ada lima laboratorium komputer yang terkoneksi dengan internet menggunakan akses speedy dan 3 titik hotspot area yang juga menggunakan akses speedy. Baru-baru ini kami mendapatkan fasilitas baru hotspot area dari Telkom dimana siswa bisa mengakses internet secara gratis dengan cara mengirim sms ke *363*601#. Sms yang dikirim akan mendapatkan fasilitas pasword untuk dapat mengakses internet. Hal ini tentu sangat mendukung resolusi juara pembelajaran yang akan saya kembangkan, dan tentunya saya sangat berterima kasih kepada PT. Telkom yang telah menyediakan infrastruktur internet yang sangat memadai.
Di samping murid sendiri, resolusi pembelajaran yang akan saya kembangkan tentu bisa diakses oleh murid lain, dengan catatan mereka memiliki koneksi internet. Tetapi saya sangat yakin bahwa perkembangan infrastruktur internet saat ini sangat pesat dan murah sehingga bisa dijangkau oleh masyarakat.
Membuat konten/Isi
Tugas infrastruktur internet biarlah ditangani oleh ahlinya yaitu PT. Telkom, tugas saya sebagai guru dalam hal ini adalah membangun konten/isi dari pembelajaran tanpa sekat ruang dan waktu tersebut. Pembangunan konten Pembelajaran tanpa sekat ruang dan waktu adalah dengan memanfaatkan beberapa fasilitas antara lain:
  1. Blog
    Blog yang saya bikin dibangun dengan fasilitas gratis dari Blogger yaitu www.blogger.com. Blog gratisan itu ternyata cukup memadai untuk memasang semua materi pelajaran, video, kuis online dan nilai raport. Blog dibuat menarik sehingga merangsang siswa untuk mengunjunginya. Lewat blog ini saya mengembangkan konten pembelajaran. Silahkan berkunjung di www.kang-ardan.blogspot.com.
  2. Facebook
    Fasilitas gratis kedua yang akan saya gunakan adalah Facebook. Apa pertimbangannya? Sederhana, yaitu hamper semua muridku telah memiliki account facebook. Facebook nantinya digunakan untuk melakukan chatting antara guru dan siswa, membuat grup komunitas kelas, memberi tugas guru ke murid, melaporkan tugas siswa, dan memberi motivasi.
  3. Email,
    Fasilitas gratis ketiga yang saya gunakan adalah email. Saya menggunakan fasilitas email miliki Google yaitu gmail. Email ini saya gunakan untuk membuat account blog, dan facebook.
  4. Kuis atau ulangan  online,
    Kuis online digunakan untuk mendapatkan nilai dengan melaksanakan evaluasi. Kuis online yang digunakan dibangun dengan proprofs dan fasilitas lain dari Google yaitu Google Document. Untuk tampilan kuis online atau ulangan  ini dipasang secara embed di blog. Contohnya klik disini.
  5. Video di www.beoscope.com
    Tampilan konten yang menarik didukung dengan fasilitas video. Untuk memasang video yang sudah dibuat adalah dengan memanfaatkan fasilitas dari www.beoscope.com yang diembed di blog. Bagaimana cara memanfaatkan video  klik disini.
  6. Office Web Apps dari Microsoft.
    Fasilitas di internet ini digunakan untuk memasang nilai raport, administrasi pembelajaran dan data siswa. Pingin tahu cara memanfaatkannya  klik disini.
Membuat sebuah program tidak lepas dari tiga faktor yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Tekad yang ingin saya kejar untuk tahun 2012 yaitu menciptakan pembelajaran tanpa sekar ruang dan waktu juga dipengaruhi oleh tiga faktor tersebut. Resoluasi saya tahun 2012 ditargetkan selesai pada enam bulan pertama sesuai dengan masa pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Tahap perencanaan akan saya laksanakan selama satu bulan yaitu bulan Januari 2012. Rencana pada tahap pelaksanaan adalah membuat blog, membuat grup di facebook dan membuat kuis online. Sementara tugas yang saya berikan ke murid adalah membuat account facebook dan gabung di grup yang saya buat. Pada tahap kedua yaitu tahap pelaksanaan direncanakan selama empat bulan yaitu bulan Pebruari s.d. Mei 2012. Pada tahap ini siswa diminta untuk mengakses materi di blog, mengajukan pertanyaan dan berkonsultasi melalui facebook dan mengerjakan soal online. Tahap terakhir adalah tahap evaluasi. Pada tahap ini saya akan mebuat angket menggunakan Google Document untuk menjaring pendapat siswa berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran tanpa sekat ruang dan waktu. Evaluasi ini penting untuk pengembangan sistem belajar yang saya buat dimasa depan. 
Itulah resolusi juara yang akan saya kembangkan di tahun 2012. Saya optimis keinginan saya ini akan membantu siswa dalam mengembangkan pembelajaran yang menyenangkan dan akhirnya dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Jumat, 23 Desember 2011

Manfaat Facebook Untuk Pendidikan


Facebook adalah sebuah social networking yang baru saja dirintis pada tahun 2006 oleh seorang mahasiswa Harvard yang bernama Mark Zuckerberg. Mark Elliot Zuckerberg atau Mark Zuckerberg lahir lahir pada 14 Mei 1984 di Dobbs Ferry, Westchester County, New York, Amerika Serikat (AS).
Ide berawal ketika dia bersekolah di Exeter High School, New Hampshire. Saat itulah dia berkenalan dengan Adam D’Angelo. Zuckerberg lulus dan masuk Harvard University, awalnya membuat program Coursematch yang memungkinkan mahasiswa di kelas yang sama bisa melihat daftar teman-teman sekelas. Rupanya itu tujuan awal facebook, untuk membuat komunitas online sehingga orang-orang bisa saling mengenal dan menghubungkan orang-orang yang memiliki minat dan hobi yang sama. Tapi apakah hanya sebatas itu manfaat dari facebook. Apakah facebook bisa dimanfaatkan untuk pendidikan? Ternyata bisa, ada 9 macam manfaat facebook untuk pendidikan antara lain :
  1. Tempat informasi hasil karya penelitian seperti Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

  2. Membentuk komunitas pendidikan, seperti komunitas multimedia SMK Negeri 8 Semarang.
  3. Memberi informasi penting untuk siswa seperti tes CPNS untuk alumni.
  4. Wahana untuk memberikan pesan positif untuk siswa
  5. Tempat memberikan tugas guru kepada muridnya
  6. Tempat melaporkan tugas siswa.
  7. Tempat memberikan informasi berupa kisi-kisi soal
  8. Sarana untuk memberikan dukungan kepada temannya yang ikut lomba
  9. Tempat pengumuman nilai hasil ulangan

Selasa, 15 Februari 2011

MEMBANGUN E-LEARNING DI SEKOLAH

Belajar secara umum dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku akibat interaksi individu dengan lingkungan. Proses perubahan tingkah laku itu ada yang terjadi dengan sendirinya karena proses kematangan dan ada yang tidak terjadi dengan sendirinya tetapi direncanakan. Wujud interaksi antara siswa dengan sumber belajar dapat bermacam-macam. Cara belajar dengan mendengarkan ceramah guru memang merupakan salah satu wujud interaksi tersebut. Namun belajar hanya dengan mendengar saja patut diragukan efektifitasnya. Belajar hanya akan efektif jika siswa diberikan banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu, melalui multi-metode dan multi-media. Komputer sebagai sarana interaktif merupakan salah satu bentuk pembelajaran terprogram yang dilandasi Hukum Akibat. Dalam Hukum Akibat asumsi utama yang diyakini adalah tingkah laku yang diikuti rasa senang besar kemungkinannya untuk dilakukan atau diulang dibandingkan tingkah laku yang tidak disenangi. Perkembangan teknologi saat ini sangat cepat. Komputer tidak hanya dapat dijalankan sendirian tetapi dapat dihubungkan dengan komputer lain dalam satu jaringan. Komputer yang satu dapat memanfaatkan sumber daya komputer yang lain. Dalam skala yang lebih luas, kita bisa memanfaatkan internet.
Internet merupakan sebuah jaringan global yang memungkinkan komunikasi antar kota dan bahkan antar negara dapat dilakukan dengan biaya yang murah. Kita bisa mengirim surat elektronik (e-mail), ngobrol (chatting), mendengarkan radio (streaming) dan mencari informasi (browsing) dengan siapapun, darimanapun dan kemanapun dengan biaya pulsa telepon lokal. Kita bisa pula “bertelepon” ke luar negeri, juga dengan pulsa lokal. Internet dipadati dengan materi pendidikan dan hiburan.
Menurut Donny BU dari ICT Watch Jumlah pengguna internet di Indonesia berdasarkan data dari Google.com/adplanner per Mei 2010 telah mencapai 38 juta orang. Untuk di kawasan Asia, Indonesia masuk dalam 5 besar pengguna Internet terbanyak bersama dengan China, Jepang, India dan Korea Selatan. Pengguna layanan jejaring sosial Facebook di Indonesia juga menunjukkan angka yang tinggi masih menurut sumber yang sama, yaitu tercatat sebanyak 28 juta pengguna. Adapun menurut layanan pemeringkat situs Alexa.com, sejumlah situs yang memberikan layanan untuk berbagi informasi dan berkolaborasi mengalami peningkatan pengunjung yang pesat dari Indonesia. Sebutlah selain Facebook, ada layanan Blogspot (blogger.com), WordPress, Youtube, Twitter dan Multiply yang semuanya masuk dalam 20 besar situs yang paling banyak dikunjungi dari Indonesia. Bahkan beberapa diantaranya sudah lebih dahulu bercokol di 5 besar seperti blogspot dan Facebook. Ini menunjukkan bahwa era prosumer informasi, era dimana kini siapapun bisa menjadi produsen sekaligus konsumer informasi dalam saat yang nyaris bersamaan, sudah menjadi keniscayaan, termasuk di Indonesia.
Besarnya pengguna internet di Indonesia dapat dimanfaatkan untuk pendidikan. Penggunaan internet untuk pendidikan ini sering disebut dengan e-learning. Berbagai pengertian tentang e-learning saat ini sebagian besar mengacu pada pembelajaran yang menggunakan teknologi internet. Seperti pengertian dari Rosenberg menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi Internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan Campbell (2002), Kamarga (2002) yang intinya menggunakan media Internet dalam pendidikan sebagai hakikat e-learning. Bahkan Onno W. Purbo (2002) menjelaskan bahwa istilah “e” atau singkatan dari elektronik dalam e-learning digunakan sebagai istilah untuk segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usahausaha pengajaran lewat teknologi Internet. Dikatakan oleh Darin E. Hartley bahwa: e-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan komputer lain.
LearnFrame.Com dalam Glossary of e-learning Terms [Glossary, 2001] menyatakan suatu definisi yang lebih luas bahwa: e-learning adalah system pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media internet, jaringan komputer maupun komputer stand alone.
Bagaimana mengembangkan e-learning di sekolah? Inilah pertanyaan mendasar yang menjadi pokok permasalahan dalam tulisan ini. Untuk menjawabnya maka tulisan ini akan dibagi menjadi tiga bagian yaitu :
  1. Perangkat apa saja yang diperlukan untuk membangun e-learning di sekolah ?,
  2. Bagaimana model e-learning di sekolah ?, dan
  3. Apa keuntungan e-learning di sekolah?
Perangkat Membangun e-learning di sekolah
Perangkat yang diperlukan untuk membangun e-learning di sekolah antara lain :
Infrastruktur
Infrastruktur untuk membangun e-learning di sekolah meliputi :
  1. Server
    Server adalah komputer khusus yang bertugas melayani aplikasi-aplikasi jaringan. Tingkat kebutuhan spesifikasi server sangat beragam dan tergantung pada fungsi server dan sistem operasi yang terpasang. (Madcoms, 2003 : 21).
  2. Client Server
    Client Server adalah komputer yang memanfaatkan layanan dari server. Sistem operasi jaringan Client Server memungkinkan untuk mensentralisasi fungsi dan aplikasi kepada satu atau dua dedicated file server. Sebuah File server menjadi jantung dari keseluruhan sistem, memungkinkan untuk mengakses sumber daya dan menyediakan keamanan. Linux, Novel Netware, dan Windows NT adalah contoh model sistem operasi jaringan Client Server. (Madcoms, 2003 : 3).
  3. UTP
    Kabel twisted pair dapat dibagi menjadi dua macam yaitu shielded yang memiliki selubung pembungkus dan unshielded yang tidak mempunyai selubung pembungkus.
  4. Konsentrator
    Konsentrator adalah perangkat yang digunakan untuk memperluas dan menambah jumlah komputer dalam sebuah jaringan. Konsentrator terdiri dari dua jenis yaitu hub dan switch. Perbedaan keduanya pada kemampuan transfer data. Pada hub kecepatan transfer data adalah 6,25 Kbps sedangkan pada switch kecepatan transfer data adalah 100 Kbps. (Madcoms, 2003 : 19).
  5. Modem
    Modem singkatan dari Modulator Demodulator yang berfungsi untuk mengkonversikan data digital ke data analog dari komputer pengguna ke komputer server melalui jalur telepon dan sebaliknya. (Madcoms, 2003 : 127).
  6. Setting LAN
    Cara yang paling efektif dan efesien untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lain atau menghubungkan sejumlah komputer ke internet adalah dengan membangun jaringan lokal (local area network/LAN). Dengan adanya jaringan maka hanya diperlukan satu sambungan saja ke internet yang bisa dipergunakan secara bersama-sama oleh komputer yang tergabung dalam jaringan tersebut.
  7. Sharing Internet
    Agar semua computer client dapat terkoneksi dengan internet, maka koneksi internet di server harus di sharing ke dalam jaringan LAN.
  8. Trouble shooting Jaringan
    Jika koneksi antar komputer terputus maka kita harus mengecek penyebab putusnya koneksi tersebut. Adapun langkah-langkah pengecekan sebagai berikut :
    • Periksa Swicth menyala atau tidak
    • Periksa kabel UTP terlepas atau tidak
    • Periksa IP Address komputer tersebut sudah benar atau belum.Klik kanan pada ikon LAN kemudian klik Disable kemudian ganti dengan Enable.

Sumber Daya Manusia (SDM)
Dalam pembelajaran e-learning, dua sumber daya manusia yang sangat dibutuhkan adalah :
  1. Guru
    Peranan guru tak kalah menentukannya terhadap keberhasilan e-learning di sekolah. Keberhasilan e-learning ini secara signifikan ditentukan oleh guru yang kreatif dan penuh dedikasi.
  2. Laboran
    Tenaga laboran sangat dibutuhkan ketika terjadi kerusakan komputer atau terjadi masalah dengan jaringan komputer. Hal ini disebabkan guru yang mengajar menggunakan jaringan komputer memiliki kemampuan terbatas untuk menangani kerusakan komputer dan putusnya jaringan komputer.
Content (Isi)
Pemakaian internet dalam pendidikan sangat luas. Untuk memudahkan saya bagi menjadi tiga golongan yaitu :
  1. Facebook
    Facebook adalah sebuah social networking yang baru saja dirintis pada tahun 2006 oleh seorang mahasiswa Harvard yang bernama Mark Zuckerberg. Mark Elliot Zuckerberg atau Mark Zuckerberg lahir lahir pada 14 Mei 1984 di Dobbs Ferry, Westchester County, New York, Amerika Serikat (AS).
    Ide berawal ketika dia bersekolah di Exeter High School, New Hampshire. Saat itulah dia berkenalan dengan Adam D’Angelo. Zuckerberg lulus dan masuk Harvard University, awalnya membuat program Coursematch yang memungkinkan mahasiswa di kelas yang sama bisa melihat daftar teman-teman sekelas. Rupanya itu tujuan awal facebook, untuk membuat komunitas online sehingga orang-orang bisa saling mengenal dan menghubungkan orang-orang yang memiliki minat dan hobi yang sama. Tapi apakah hanya sebatas itu manfaat dari facebook. Apakah facebook bisa dimanfaatkan untuk pendidikan? Ternyata bisa, ada 9 macam manfaat facebook untuk pendidikan antara lain :
    • Tempat informasi hasil karya penelitian seperti Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

    • Membentuk komunitas pendidikan, seperti komunitas multimedia SMK Negeri 8 Semarang.

    • Memberi informasi penting untuk siswa seperti tes CPNS untuk alumni.

    • Wahana untuk memberikan pesan positif untuk siswa

    • Tempat memberikan tugas guru kepada muridnya

    • Tempat melaporkan tugas siswa.

    • Tempat memberikan informasi berupa kisi-kisi soal

    • Sarana untuk memberikan dukungan kepada temannya yang ikut lomba

    • Tempat pengumuman nilai hasil ulangan

  2. Situs-situs yang bermanfaat untuk pendidikan
    Situs Edukasi dan Hiburan untuk TK – SD (Bahasa Inggris)
    Situs Pengetahuan dan Pendidikan untuk SMP-SMA
    Blog Pendidikan
    Blog Teknologi
    Blog Gaya Hidup
  3. Blog
    Sistem pembelajaran yang selama ini dilakukan yaitu sistem pembelajaran konvensional (faculty teaching), kental dengan suasana instruksional dan dirasa kurang sesuai dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. Sistem pembelajaran konvensional kurang fleksibel dalam mengakomodasi perkembangan materi pelajaran karena guru harus intensif menyesuaikan materi dengan perkembangan teknologi terbaru. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sekarang ini sangat pesat. Kemajuan IPTEK tersebut membuat informasi dapat didapat dengan mudah dan cepat dari berbagai belahan dunia. Salah satu kemajuan IPTEK adalah blog. Adanya blog kami manfaatkan ke dalam kegiatan belajar mengajar dalam bentuk tugas menulis pada mata pelajaran Bahasa Indonesia melalui blog. Hasil lengkap dari penelitian ini silahkan baca disini
Model E-learning di sekolah
Pembelajaran e-learning di sekolah dapat dilakukan di dua tempat yaitu :
  1. Laboratorium komputer
    Pendidikan berbasis e-learning yang dilakukan di laboratorium dapat dilakukan melalui dua model, yaitu : 1) Content yang bukan berasal dari internet dimana guru memasukkan content melalui CD atau flashdik ke dalam komputer server kemudian content itu dishare ke komputer client. Siswa membuka content itu di komputer client masing-masing. dan 2) Content yang berasal dari internet dimana Guru memberikan alamat website pendidikan kepada siswa untuk melakukan browsing di internet.
  2. Kelas
    Peranan internet di sini adalah untuk menyediakan sumber-sumber yang sangat kaya dengan memberikan alamat-alamat atau membuat hubungan (link) ke berbagai sumber belajar yang sesuai yang bisa diakses secara online, untuk meningkatkan kuantitas dan memperluas kesempatan berkomunikasi antara pengajar dengan peserta didik secara timbal balik.
Keuntungan model e-learning di sekolah
  1. Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan atau guru.
    Apabila dirancang secara cermat, pembelajaran melalui jaringan dan internet dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan bahan belajar, peserta didik dengan guru, dan antara sesama peserta didik. Hal ini berbeda dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat berani, atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi.
  2. Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja.
    Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja sesuai dengan ketersedia waktunya dan dari manapun dia berada. Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, yang dapat diserahkan kepada guru begitu selesai dikerjakan. Tidak perlu penyerahan tugas harus menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan guru. Juga tidak perlu menunggu sampai ada waktu luang guru untuk mendiskusikan hasil pelaksanaan tugas apabila dikehendaki. Melalui teknologi internet, semua hal yang demikian ini dapat diatasi.
  3. Meningkatkan motivasi belajar siswa.
    Tampilan content yang menarik dan interaktif ditambah dengan efek suara membuat siswa tertarik untuk belajar. Hal ini sangat berbeda ketika pembelajaran dilakukan dengan metode ceramah.
  4. Mendukung pembelajaran individual sesuai kemampuan siswa.
    Metode ceramah yang diberikan guru di kelas tidak bisa mengatasi perbedaan kemampuan anak untuk menerima materi. Hal ini disebabkan guru tidak menjelaskan materi secara individual. Pendidikan berbasis jaringan dan internet dapat mendukung pembelajaran individual karena siswa menghadapi materi yang ada di layar monitor komputer. Materi dapat diulang-ulang sesuai keperluan, tanpa menimbulkan rasa jenuh.
  5. Belajar Mandiri
    Pendidikan e-learning memberikan kesempatan bagi siswa secara mandiri memegang kendali atas keberhasilan belajar. Siswa bebas menentukan kapan akan mulai, kapan akan menyelesaikan, dan bagian mana dalam satu modul yang ingin dipelajarinya terlebih dulu. Seandainya, setelah diulang masih ada hal yang belum ia pahami, siswa bisa menghubungi instruktur, nara sumber melalui email, chat atau ikut dialog interaktif pada waktu-waktu tertentu.

DAFTAR PUSTAKA
Abimanyu, Aris P. 2006. Pengenalan Internet. Semarang : ICT LPMP Jawa Tengah.
Madcoms. 2003. Dasar Teknis Instalasi Jaringan Komputer. Yogyakarta : Penerbit Andi.
www.isekolah.org.
Inixindojogja. 2008. Membangun E-learning dengan Moodle
Terima kasih saya ucapkan kepada :
Donny B.U. Penggiat Internet Sehat / Peneliti Senior ICT Watch
Onno Purbo (Pakar Internet Indonesia)