Kebutuhan Media Pembelajaran Guru Berbasis TIK

If we teach today’s student as we taught yesterday’s, we rob them of tomorrow”

Guru Kutu Loncat

Mungkin terdengar negatif judul tersebut, hal ini dapat dimaklumi karena kata kutu loncat adalah orang yang terbiasa pindah tempat kerja karena menemukan hal yang lebih baik ditepat lain.

Ketika Aku Memilih Menjadi Guru

Menjadi seorang guru bukanlah cita-cita saya sejak kecil.

Berinovasi Keluar dari Zona Nyaman

Ketika revolusi industri di Inggris mulai berlangsung, orang mulai berpikir bahwa hidup itu semakin mudah dengan mekanisasi dan teknologi.

Pembelajaran Bermakna

Pagi itu saya mengajukan pertanyaan ke anak didik, siapa yang ketika sekolah di SD atau SMP mendapatkan tugas dari gurunya untuk menyelesaikan masalah di masyarakat?

Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Januari 2011

UPAYA MENURUNKAN EMISI GAS RUMAH KACA

Melanjutkan tulisan saya yang pertama, inilah tulisan yang kedua berisi upaya dalam rangka penurunan emisi gas rumah kaca. Beberapa upaya yang dapat kita lakukan :

  1. Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
    Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi sangatlah sulit, apalagi di kota-kota besar. Hal ini dikarenakan banyak faktor yang mempengaruhi gaya hidup masyarakat. Perasaan gengsi, ingin lebih nyaman, tidak adanya kendaraan umum yang memadai dll, merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan kendaraan pribadi. Namun jika harus mengendarai kendaraan pribadi pastikan bahwa kendaraan tersebut harus hemat BBM dan BBM tersebut hendaknya yang ramah lingkungan. Selain itu kurangi penggunaan kendaraan pribadi untuk jarak dekat. Alternatif kendaraan untuk jarak dekat diantaranya adalah jalan kaki atau bersepeda.
  2. Gunakan transportasi umum.

    Tidak mudah untuk menggunakan transportasi umum kecuali bagi yang terbiasa. Penggunaan transportasi umum sangat membantu untuk mengurangi gas emisi rumah kaca. Namun demikian perawatan kendaraan umum juga sangat besar pengaruhnya. Karena itu perlu diusulkan kepada pemerintah untuk memperbaiki sistem transportasi umum sehingga menjadi lebih baik.

  3. Menghentikan penebangan hutan.

    Penebangan hutan hingga saat ini masih menjadi isu yang menarik perhatian. Rata-rata setiap hari lebih negara dirugikan lebih dari 1 milyar rupiah setiap harinya akibat penebangan hutan yang liar (illegal loging). Padahal hutan sangat bermanfaat untuk menyerap CO2. Karena itu perlu didukung penanaman jenis-jenis tanaman yang mampu menyerap karbon.

  4. Mencegah kebakaran hutan.

    Kebakaran hutan yang disebabkan oleh kegiatan manusia sangat besar dampaknya. Hal ini dikarenakan kebutuhan untuk mendapatkan lahan yang lebih luas. Akibat dari kebakaran hutan maka luasan daerah yang mampu menyerap karbon akan berkurang. Dampak yang lebih parah adalah semakin meluasnya wilayah-wilayah yang potensial menjadi daerah gurun.

  5. Mengurangi sampah rumah tangga dan industri.

    Tindakan ini memang tidak mudah dilakukan. Sosialisasi mengenai program ini sudah berlangsung puluhan tahun namun nampaknya masih jauh dari harapan. Sampah yang semakin banyak dan tidak didaur ulang akan dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dimana TPA memiliki banyak kandungan methan yang tinggi.

  6. Lakukan hemat energi.

    Melakukan hemat energi misalnya dengan mengurangi penggunaan lampu yang tidak diperlukan, pemakaian televisi yang terus menerus agak dikurangi dll. Hemat energi akan juga menghemat penggunaan batubara di PLTU.

  7. Kurangi penggunaan bahan-bahan kimia yang meningkatkan efek rumah kaca.

    Mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia seperti CFC untuk AC dan penggunaan bahan kimia lainnya juga diharapkan akan mengurangi efek rumah kaca.

  8. Kembangkan energi alternative.

    Mengembangkan energi alternatif sangat penting. Energi yang berasal dari angin, sinar matahari, air dll sebenarnya sangat potensial digunakan di Indonesia. Karena itu hendaknya dari aspek kebijakan nasional energi perlu didorong pengembangan energi alternatif ini. Masih banyak cara-cara lain yang ditempuh untuk mengurangi efek rumah kaca seperti, kebijakan penggunaan bensin, pengurangan daerah-daerah tandus dll. Cara-cara yang sederhana hingga yang rumit harus dilakukan namun dengan cara simultan dari mulai perencanaan hingga evaluasi terhadap seluruh kebijakan lingkungan hidup di Indonesia. Tindakan ini dapat dilakukan misalnya penyadaran terhadap kalangan siswa didik melalui pendidikan lingkungan hingga implementasi pada kebijakan nasional mengenai pendidikan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Budianto, AI. 2001. Pengaruh Perubahan Iklim Global Terhadap Negara Kepulauan Indonesia, dalam Rajagukguk, E dan Ridwan K, Jakarta.

KLH. 1992. Dampak Perubahan Iklim, Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, Jakarta.

_____. Tanpa tahun. Respon Indonesia Terhadap Isu-isu Lingkungan Global, Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dan UNDP, Jakarta.

_____2001. Tanya Jawab tentang Isu-isu Perubahan iklim, Kementerian Lingkungan hidup, Jakarta.

LAPAN, 2003. Landasan Ilmiah Perubahan Iklim, Bandung.

Intergovernmental Panel on Climate Change,1995. Climate Change 1994, IPCC, Cambridge University Press, London.

RUANG TERBUKA HUTAN SEBAGAI LANGKAH STRATEGIS MENINGKATKAN KUALITAS UDARA DI KOTA SEMARANG

Kualitas udara ambien Kota Semarang masuk kategori sedang. Artinya, udara tidak berpengaruh pada kesehatan manusia atau hewan, tapi pada tumbuhan dan nilai estetika. Kategorisasi itu berdasarkan indeks standar pencemar udara atau ISPU. ISPU menggambarkan kondisi kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu, yang didasarkan pada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika, dan makhluk hidup lainnya. ISPU Kota Semarang diperoleh dari hasil pantauan stasiun pemantau di Tugu, Banyumanik, dan Pedurungan. Dalam lima tahun terakhir, ISPU ratarata per tahun mencapai angka 55,54. (Kompas edisi 01 September 2006).
Kualitas udara tidak sehat jika ISPU menunjukkan angka lebih dari 100. Meski demikian, tidak berarti masyarakat boleh bernapas lega. Pasalnya, ada waktu di mana pencemaran mencapai puncaknya, terutama saat transportasi padat. Bahkan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional memasukkan Semarang dalam enam kota di Indonesia dengan kualitas udara mengkhawatirkan. Udara bersih hanya dapat dinikmati antara 22 sampai 62 hari dalam setahun. Pencemar udara terbesar dari sektor transportasi dan industri. Jumlah kendaraan bermotor sebanyak 780.000 unit dan tingkat pelanggaran penanganan cerobong asap di 2.600 industri relatif tinggi. Semua ini tidak sebanding dengan kemampuan alam menetralisasi racun di udara. (Kompas edisi 01 September 2006).
Dalam pembangunan perkotaan yang pesat seiring pesatnya laju pertumbuhan penduduk kota, perlu dilakukan upaya-upaya untuk mempertahankan dan mengembangkan ruang-ruang terbuka hijau sebagai unsur kota dan merupakan kebutuhan mutlak bagi penduduk kota. Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan yang ideal adalah keseimbangan koefisien penggunaan tata ruang yang memadai antara luas perkotaan dan pertambahan penduduk.
Kota Semarang yang merupakan Kota Metropolitan berpenduduk sekitar 1,4 juta jiwa dengan luas wilayah 37.360,947 hektare diharapkan mampu mempertahankan RTH sebagai upaya melestarikan lingkungan. Berdasarkan Perda Nomor 5 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Semarang Tahun 2000-2010, rencana penyediaan ruang terbuka hijau kota (konservasi) masih cukup menjanjikan dengan persentase sebesar 32 % (data ini belum terhitung terkait garis sempadan yang telah ditetapkan). Namun demikian, harus menengok ke belakang, persentase ini terdukung karena pada 1976 Kota Semarang mendapatkan “hibah” perluasan daerah hinterland Kota Semarang yang sebagian kondisi eksisting lahannya adalah konservasi. Ini tentunya harus dipertahankan, khususnya kawasan Semarang bagian bawah. (M Farchan, 2006).
Sesuai konsep rencana tata ruang terbuka hijau perkotaan, maka ada dua fungsi yaitu utama (intrinsik) dan tambahan (ekstrinsik). Yang utama yakni fungsi ekologis, sedangkan untuk tambahan adalah fungsi arsitektural, ekonomi, dan sosial. Dalam wilayah perkotaan, fungsi itu harus dapat dikombinasikan sesuai kebutuhan, kepentingan, dan keberlanjutan kota. RTH berfungsi ekologis adalah untuk menjamin keberlanjutan suatu kawasan kota secara fisik, yang merupakan bentuk rencana berlokasi, berukuran, dan berbentuk pasti dalam suatu kota. Adapun fungsi tambahan adalah dalam rangka mendukung dan menambah nilai kualitas lingkungan dan budaya kota. Dengan begitu dapat berlokasi sesuai kebutuhan dan kepentingannya, misalnya keindahan (taman), rekreasi (lapangan olahraga), dan pendukung lanskap kota.
Hal ini dapat dijadikan pemikiran bahwa untuk kota tropis seperti Semarang, ruang terbuka harus ditanami dengan rumput atau pepohonan untuk menurunkan suhu yang panas. Apabila ruang terbuka ditutup dengan material keras maka suhu kota akan naik dan kebutuhan akan suhu nyaman tidak akan pernah tercapai. Taman kota merupakan bagian dari ruang terbuka hijau (RTH). Menurut de Chiara & Lee Kopellman dalam Sukawi (2006), RTH berfungsi untuk mempertahankan karakter kota dengan fungsi sebagai hutan kota dan taman kota. Taman kota merupakan wahana keanekaragaman hayati yang harus diupayakan menjadi suatu komunitas vegetasi yang tumbuh dilahan kota dengan struktur menyerupai hutan alam dan membentuk habitat yang memungkinkan kehidupan bagi satwa.
Tidak adanya taman kota yang memadai untuk beraktivitas menyebabkan banyak masyarakat yang memanfaatkan fasilitas umum tidak pada tempatnya. Sering kita jumpai anak-anak bermain sepakbola di jalanan yang dapat mengganggu pemakai jalan. Pemerintah lebih mengutamakan pembangunan mal-mal, hotel, dan semacamnya hanya untuk keuntungan belaka tanpa memikirkan nilai-nilai sosial yang lebih penting. Namun, pembangunan taman kota perlu disertai dengan peraturan guna menghindari para PKL dan tunawisma mengotori dan mengganggu kenyamanan dan keindahan taman kota.
Untuk meningkatkan kualitas udara Kota Semarang yang semakin panas, beberapa hal yang penting untuk dilakukan adalah menghidupkan kembali /revitalisasi sarana kota yang terbengkelai, seperti pada bantaran sungai, tepian jalur kereta api, ruang ruang terbuka lainya yang terbuang (the lost space), ruang ruang luar yang merupakan transisi dari elemen kota yang satu ke yang lainya dengan upaya penghijauan yang semaksimal mungkin. Pohon-pohon di sepanjang jalan yang ditebang akibat korban pelebaran jalan dengan dalih untuk mengatasi kemacetan juga harus diganti. Kota Semarang memerlukan banyak taman kota untuk membantu menurunkan suhu lingkungan.
Cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kualitas udara Kota Semarang adalah:
  1. Ruas jalan yang sudah didominasi dengan beton dan aspal perlu dilindungi dari matahari langsung dengan penanaman pohon di sepanjang tepi jalan.
  2. Menggalakkan gerakan penghijauan (misalnya penanaman sejuta pohon) untuk menghindari berkurangnya vegetasi dalam lingkungan kota. Penanaman ini dapat dilakukan di taman-taman kota, koridor jalan, pembatas jalan sehingga dapat membantu mengurangi suhu dan membuat kota lebih sejuk dan hijau. Pepohonan mempunyai potensi besar untuk mendinginkan kota dengan cara meneduhkan dan melakukan proses ”evapotranspirasi”. Proses ini terjadi ketika tanaman mengeluarkan uap air lewat pori-pori daun layaknya manusia yang mengeluarkan keringat. Vegetasi sangat bermanfaat untuk merekayasa masalah lingkungan perkotaan baik dari aspek estetika, mengontrol erosi tanah dan air tanah, mengurangi polusi udara, mengurangi kebisingan, mengendalikan air limbah, mengontrol lalu lintas dari kesilauan cahaya matahari maupun cahaya yang lainnya dan dapat mengurangi bau tidak sedap dari sampah. Tanaman buah-buahan akan menjadi pilihan Pemerintah Kota Semarang untuk menghijaukan arealnya terutama di bantaran sungai, lahan kosong, dan permukiman. Ini untuk meningkatkan partisipasi warga dalam memelihara kehijauan kota. “Selama ini, paradigma tanaman perindang hanya berupa kayu akasia atau mahoni. Mengapa tak dikembangkan tanaman buah-buahan yang bermanfaat bagi masyarakat sendiri?” ujar Sekretaris Tim Teknis Penyusunan Rencana Tata Ruang Hijau (RTRH) Kota Semarang Budi Prakosa, seperti dikutip dari Kompas edisi Rabu, 13 September 2006.
    Dengan penanaman buah-buahan ini, kata Budi, kesadaran masyarakat untuk menjaga ruang hijau kota dapat diciptakan. Dicontohkan, penanaman tanaman jambu air disepanjang Kali Jajar Kabupaten Demak oleh warga setempat. Warga setempat sangat menjaga pepohonan itu karena hasil panen jambu air mendatangkan peningkatan kesejahteraan hidup. Budi contohkan penanaman tanaman buah-buahan di bantaran Kali Banjir Kanal Timur dan Banjir Kanal Barat. Selanjutnya, warga di sekitarnya dapat mengelola tanaman itu. “Ini juga dapat menghindari adanya lahan kosong milik pemkot agar tak diduduki orang lain (ilegal). Karena, pengawasan dilakukan warga setempat,” ujar Budi, staf Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Semarang. Saat memberikan laporan pendahuluan RTRH Kota Semarang, Untuk itu program resik-resik kutho perlu diteruskan.
  3. Mewajibkan setiap rumah tangga untuk menanam satu pohon di halaman rumah. Terutama untuk jenis pohon yang produktif seperti pohon buah-buahan. Pemkot Semarang juga dapat memberikan reward kepada peran serta masyarakat dan swasta yang mempunyai perhatian terhadap penghijauan, keindahan taman kota dan lingkungan. Penghargaan ini dapat berupa hadiah untuk pemeliharaan, atau keringanan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sehingga memacu warga kota untuk berpartisipasi.
  4. Menegakkan aturan dengan punishment tentang peraturan bangunan setempat, diantaranya Koefisien Dasar Bangunan (KDB) untuk semua bangunan sehingga ada ruang terbuka (open space) dalam setiap tapak yang akan bermanfaat untuk penanaman pohon atau penghijauan.
    Keberadaan taman kota sangatlah penting bagi kenyamanan warga yang ingin melakukan kegiatan refreshing atau sekedar jalan-jalan. Setidaknya keberadaan taman kota dapat mengurangi dampak buruk yang diakibatkan oleh polusi udara. Jika hal ini dibiarkan, masyarakat akan hidup berdampingan dengan udara yang terpolusi. Untuk itu, diperlukan pengendalian diri Pemkot untuk tidak gatal menyulap lahan-lahan hijau menjadi bangunan komersial yang akan membuat Semarang menjadi semakin sumpek. Penanaman pohon merupakan suatu usaha untuk mendinginkan dan menghijaukan kota dengan pengelolaan taman kota, taman lingkungan, jalur hijau dan sebagainya. Apabila semuanya dilakukan bukan mustahil Semarang akan “ijo royo-royo” yang dapat menjadi identitas kota Semarang.
Daftar Pustaka
Kompas edisi 01 September 2006.
Kompas edisi Rabu, 13 September 2006.
M. Farchan. 2006. Rencana Ruang Terbuka Hijau. Suara Merdeka edisi 24 Agustus 2006.
Sukawi. 2006. Mendinginkan Kota Semarang. Seputar Semarang Suplemen Suara Merdeka 20 Juni 2006

GLOBAL WARMING MENGANCAM KITA DAN SOLUSINYA

Suatu hari saya sedang mengajar di laboratorium computer, walaupun dengan dua AC yang terpasang, udara masih terasa panas apalagi di luar ruangan panas udara sangat menyengat. Hal ini disebabkan karena naiknya suhu bumi secara global atau lebih dikenal dengan istilah pemanasan global (global warming). Pemanasan global adalah meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi sebagai akibat meningkatnya jumlah emisi Gas Rumah Kaca di atmosfer. Menurut Budianto (2000:195) dalam Rajaguguk, E dan Ridwan K (2001) perubahan iklim global sebagai peristiwa naiknya intensitas efek rumah kaca yang terjadi karena adanya gas dalam atmosfer yang menyerap sinar panas yaitu sinar infra merah yang dipancarkan oleh bumi. Kementerian Lingkungan Hidup (2001:1) mendefinisikan perubahan iklim adalah berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi antara lain suhu dan distribusi curah hujan yang membawa dampak luas terhadap berbagai sector kehidupan manusia. Perubahan fisik ini tidak terjadi hanya sesaat tetapi dalam kurun waktu yang panjang. LAPAN (2002;1) mendefinisikan perubahan iklim adalah perubahan rata-rata salah satu atau lebih elemen cuaca pada suatu daerah tertentu. Sedangkan istilah perubahan iklim skala global adalah perubahan iklim dengan acuan wilayah Bumi secara keseluruhan. Definisi yang umumnya diterima adalah berdasarkan pasal 1 Konvensi PBB mengenai Perubahan Iklim yang menyatakan : “Perubahan iklim ialah berubahnya iklim yang diakibatkan langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia yang menyebabkan perubahan komposisi atmosfer secara global dan selain itu juga berupa perubahan variabilitas iklim alamiah yang teramati pada kurun waktu yang dapat dibandingkan.” Perubahan iklim dalam skala global dan waktu yang panjang akan mempunyai implikasi terhadap ekosistem alam. Aktivitas manusia yang berdampak pada perubahan iklim juga akan berpengaruh besar untuk mengganggu keseimbangan sistem alam. Hal yang nyata adalah gaya hidup sebagai besar penduduk bumi yang menyumbang peningkatan gas rumah kaca di atmosfer yang mengakibatkan pemanasan global (global warming). Menurut LAPAN (2002:1) para peneliti internasional telah mengingatkan bahwa dunia mulai memanas. Sejumlah data terakhir menunjukkan bahwa suhu permukaan bumi telah memanas sejak 150 tahun terakhir. Peningkatan suhu tersebut tidak konstan akan tetapi siklus pemanasan dan pendinginan agak konsisten dalam beberapa dekade. Bukti-bukti telah ditunjukan dengan adanya kenaikan muka air laut, pergeseran zona iklim dan berkurangnya glasier Pegunungan Alpen.
Keadaan suhu bumi sangat ditentukan oleh adanya keseimbangan antara energi yang datang dari matahari dalam bentuk radiasi dengan energi yang diemisikan dari permukaan bumi ke ruang angkasa dalam bentuk radiasi infra merah. Biasanya radiasi matahari melewati atomosfer yang kemudian sebagian besar diserap oleh permukaan bumi. Sedangkan radiasi infra merah dari permukaan bumi sebagian diserap oleh gas rumah kaca (GRK) sebagian lagi ke permukaan bumi dan atmosfer bawah. Masalahnya yang terjadi saat ini adalah konsentrasi gas rumah kaca semakin bertambah melebihi tingkat normal sehingga sebagian radiasi yang berasal dari matahari maupun permukaan bumi terjebak oleh gas-gas rumah kaca yang mengakibatkan radiasi tidak dapat ke luar angkasa dan kembali ke permukaan bumi sehingga memanaskan suhu bumi. Dibawah ini terdapat gambar proses efek rumah kaca secara sederhana :

Karbondioksida (CO2) adalah gas rumah kaca yang sangat penting, dimana sebagian dihasilkan dari aktivitas manusia. Sekitar 5,5 giga ton per tahun (5,5, milyar ton per tahun) karbon telah diemisikan dari proses pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas dan batubara oleh kegiatan industri, rumah tangga, transportasi dan stasiun pembangkit. Sebagian kecil emisi berasal dari produksi semen dan sekitar 1,5 giga ton karbon per tahun berasal dari perubahan tata guna lahan seperti penggundulan hutan. (IPCC;2001 dalam LAPAN 2002;3) Dengan terjadinya perubahan iklim ternyata telah menimbulkan dampak pada berbagai hal seperti :
  1. Dampak pada vegetasi alamiah
    Secara singkat dalam skenario yang dikemukakan oleh IPCC terutama skenario emisi tanpa mitigasi (pencegahan) maka akan terjadi kondisi penguningan pada daun di hutan tropis dan padang rumput tropis di tahun 2080-an khususnya di Afrika dan Amerika Latin. (IPCC:2001)
  2. Dampak pada sumber air
    Dalam skenario IPCC tanpa mitigasi maka di tahun 2080 akan terjadi penurunan cadangan air besar-besaran di Australia, India, Afrika bagian selatan dan Eropa serta Timur Tengah.
  3. Dampak pada cadangan pangan
    Dalam skenario IPCC tanpa mitigasi maka di tahun 2080 akan terjadi penurunan produksi padi-padian di Afrika, Timur Tengah dan India. Namun perlu diperhatikan justru lintang tinggi dan menengah yaitu di Cina, Kanada dan Argentina produksi padi-padian akan meningkat.
  4. Dampak pada kenaikan panas laut
    Tanpa mitigasi maka di tahun 2080 paras laut akan naik sekitar 40 cm sehingga menimbulkan banjir yang merugikan. 60 % kenaikan ini akan terjadi di Asia Tenggara seperti Vietnam, Philipina dan Indonesia.
  5. Dampak pada kesehatan manusia
    Tanpa mitigasi sekitar tahun 2080 diperkirakan 290 juta penduduk dunia akan mengalami resiko terjangkit malaria falciparum. Kenaikan ini akan terjadi di Cina dan Asia Tengah. Karena itu diperlukan mitigasi dan reduksi emisi yang mengarah pada stabilisasi CO2 sehingga diharapkan alam akan mampu menyesuaikan diri terhadap proses perubahan iklim global.
Beberapa upaya yang dapat kita lakukan :
  1. Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
    Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi sangatlah sulit, apalagi di kota-kota besar. Hal ini dikarenakan banyak faktor yang mempengaruhi gaya hidup masyarakat. Perasaan gengsi, ingin lebih nyaman, tidak adanya kendaraan umum yang memadai dll, merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan kendaraan pribadi. Namun jika harus mengendarai kendaraan pribadi pastikan bahwa kendaraan tersebut harus hemat BBM dan BBM tersebut hendaknya yang ramah lingkungan. Selain itu kurangi penggunaan kendaraan pribadi untuk jarak dekat. Alternatif kendaraan untuk jarak dekat diantaranya adalah jalan kaki atau bersepeda.
  2. Gunakan transportasi umum.
    Tidak mudah untuk menggunakan transportasi umum kecuali bagi yang terbiasa. Penggunaan transportasi umum sangat membantu untuk mengurangi gas emisi rumah kaca. Namun demikian perawatan kendaraan umum juga sangat besar pengaruhnya. Karena itu perlu diusulkan kepada pemerintah untuk memperbaiki sistem transportasi umum sehingga menjadi lebih baik.
  3. Menghentikan penebangan hutan.
    Penebangan hutan hingga saat ini masih menjadi isu yang menarik perhatian. Rata-rata setiap hari lebih negara dirugikan lebih dari 1 milyar rupiah setiap harinya akibat penebangan hutan yang liar (illegal loging). Padahal hutan sangat bermanfaat untuk menyerap CO2. Karena itu perlu didukung penanaman jenis-jenis tanaman yang mampu menyerap karbon.
  4. Mencegah kebakaran hutan.
    Kebakaran hutan yang disebabkan oleh kegiatan manusia sangat besar dampaknya. Hal ini dikarenakan kebutuhan untuk mendapatkan lahan yang lebih luas. Akibat dari kebakaran hutan maka luasan daerah yang mampu menyerap karbon akan berkurang. Dampak yang lebih parah adalah semakin meluasnya wilayah-wilayah yang potensial menjadi daerah gurun.
  5. Mengurangi sampah rumah tangga dan industri.
    Tindakan ini memang tidak mudah dilakukan. Sosialisasi mengenai program ini sudah berlangsung puluhan tahun namun nampaknya masih jauh dari harapan. Sampah yang semakin banyak dan tidak didaur ulang akan dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dimana TPA memiliki banyak kandungan methan yang tinggi.
  6. Lakukan hemat energi.
    Melakukan hemat energi misalnya dengan mengurangi penggunaan lampu yang tidak diperlukan, pemakaian televisi yang terus menerus agak dikurangi dll. Hemat energi akan juga menghemat penggunaan batubara di PLTU.
  7. Kurangi penggunaan bahan-bahan kimia yang meningkatkan efek rumah kaca.
    Mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia seperti CFC untuk AC dan penggunaan bahan kimia lainnya juga diharapkan akan mengurangi efek rumah kaca.
  8. Kembangkan energi alternative.
    Mengembangkan energi alternatif sangat penting. Energi yang berasal dari angin, sinar matahari, air dll sebenarnya sangat potensial digunakan di Indonesia. Karena itu hendaknya dari aspek kebijakan nasional energi perlu didorong pengembangan energi alternatif ini. Masih banyak cara-cara lain yang ditempuh untuk mengurangi efek rumah kaca seperti, kebijakan penggunaan bensin, pengurangan daerah-daerah tandus dll. Cara-cara yang sederhana hingga yang rumit harus dilakukan namun dengan cara simultan dari mulai perencanaan hingga evaluasi terhadap seluruh kebijakan lingkungan hidup di Indonesia. Tindakan ini dapat dilakukan misalnya penyadaran terhadap kalangan siswa didik melalui pendidikan lingkungan hingga implementasi pada kebijakan nasional mengenai pendidikan lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Budianto, AI. 2001. Pengaruh Perubahan Iklim Global Terhadap Negara Kepulauan Indonesia, dalam Rajagukguk, E dan Ridwan K, Jakarta.
KLH. 1992. Dampak Perubahan Iklim, Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, Jakarta.
_____. Tanpa tahun. Respon Indonesia Terhadap Isu-isu Lingkungan Global, Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dan UNDP, Jakarta.
_____2001. Tanya Jawab tentang Isu-isu Perubahan iklim, Kementerian Lingkungan hidup, Jakarta.
LAPAN, 2003. Landasan Ilmiah Perubahan Iklim, Bandung. Intergovernmental Panel on Climate Change,1995. Climate Change 1994, IPCC, Cambridge University Press, London.
Sumber foto : www.masternewmedia.org
Sumber foto: www.globalwarmingindonesia.co.cc

DAMPAK NEGATIF SAMPAH TERHADAP MANUSIA DAN LINGKUNGAN


Efek sampah terhadap manusia dan lingkungan sebagai berikut :
Dampak terhadap Kesehatan
Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat menjangkitkan penyakit. Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut:
  1. Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum. Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai.
  2. Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit).
  3. Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita (taenia). Cacing ini sebelumnya masuk ke dalam pencernaaan binatang ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/sampah.
  4. Sampah beracun: Telah dilaporkan bahwa di Jepang kira-kira 40.000 orang meninggal akibat mengkonsumsi ikan yang telah terkontaminasi oleh raksa (Hg). Raksa ini berasal dari sampah yang dibuang ke laut oleh pabrik yang memproduksi baterai dan akumulator.

Dampak terhadap Lingkungan
Cairan rembesan sampah yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan mencemari air. Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga beberapa spesies akan lenyap, hal ini mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis. Penguraian sampah yang dibuang ke dalam air akan menghasilkan asam organik dan gas-cair organik, seperti metana. Selain berbau kurang sedap, gas ini dalam konsentrasi tinggi dapat meledak.
Dampak terhadap Keadaan Sosial dan EkonomiDampaknya antara lain :
  1. Pengelolaan sampah yang kurang baik akan membentuk lingkungan yang kurang menyenangkan bagi masyarakat: bau yang tidak sedap dan pemandangan yang buruk karena sampah bertebaran dimana-mana.
  2. Memberikan dampak negatif terhadap kepariwisataan.
  3. Pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan masyarakat. Hal penting di sini adalah meningkatnya pembiayaan secara langsung (untuk mengobati orang sakit) dan pembiayaan secara tidak langsung (tidak masuk kerja, rendahnya produktivitas).
  4. Pembuangan sampah padat ke badan air dapat menyebabkan banjir dan akan memberikan dampak bagi fasilitas pelayanan umum seperti jalan, jembatan, drainase, dan lain-lain.
  5. Infrastruktur lain dapat juga dipengaruhi oleh pengelolaan sampah yang tidak memadai, seperti tingginya biaya yang diperlukan untuk pengolahan air. Jika sarana penampungan sampah kurang atau tidak efisien, orang akan cenderung membuang sampahnya di jalan. Hal ini mengakibatkan jalan perlu lebih sering dibersihkan dan diperbaiki.

DAFTAR PUSTAKA
Agung Suprihatin, S. Pd; Ir. Dwi Prihanto; Dr. Michel Gelbert. 1996. Pengelolaan Sampah. Malang : PPPGT / VEDC Malang
Ary Nilandari. 2006. Aku Bisa Menghemat Listrik. Jakarta : Dian Rakyat.
Atasi Defisit Energi Listrik, Indonesia Bisa Gunakan Biomass Sampah Sumber : Media Indonesia (14 Januari 2004)
DKI Perlu Modernisasi Pengolahan Sampah (Republika edisi 18 Agustus 2004),
Sampah Dapat Hasilkan Energi Listrik
(www.energi.lipi.go.id edisi 6 Desember 2004

ASAL MULA SAMPAH

Berdasarkan sumbernya sampah dapat dibedakan atas :
  1. Sampah dari Pemukiman
    Umumnya sampah rumah tangga berupa sisa pengolahan makanan, perlengkapan rumah tangga bekas, kertas, kardus, gelas, kain, sampah kebun/halaman, dan lain-lain.
  2. Sampah dari Pertanian dan Perkebunan
    Sampah dari kegiatan pertanian tergolong bahan organik, seperti jerami dan sejenisnya. Sebagian besar sampah yang dihasilkan selama musim panen dibakar atau dimanfaatkan untuk pupuk. Untuk sampah bahan kimia seperti pestisida dan pupuk buatan perlu perlakuan khusus agar tidak mencemari lingkungan. Sampah pertanian lainnya adalah lembaran plastik penutup tempat tumbuh-tumbuhan yang berfungsi untuk mengurangi penguapan dan penghambat pertumbuhan gulma, namun plastik ini bisa didaur ulang.
  3. Sampah dari Sisa Bangunan dan Konstruksi Gedung
    Sampah yang berasal dari kegiatan pembangunan dan pemugaran gedung ini bisa berupa bahan organik maupun anorganik. Sampah Organik, misalnya: kayu, bambu, triplek. Sampah Anorganik, misalnya: semen, pasir, spesi, batu bata, ubin, besi dan baja, kaca, dan kaleng.
  4. Sampah dari Perdagangan dan Perkantoran
    Sampah yang berasal dari daerah perdagangan seperti: toko, pasar tradisional, warung, pasar swalayan ini terdiri dari kardus, pembungkus, kertas, dan bahan organik termasuk sampah makanan dan restoran. Sampah yang berasal dari lembaga pendidikan, kantor pemerintah dan swasta biasanya terdiri dari kertas, alat tulis-menulis (bolpoint, pensil, spidol, dll), toner foto copy, pita printer, kotak tinta printer, baterai, bahan kimia dari laboratorium, pita mesin ketik, klise film, komputer rusak, dan lain-lain. Baterai bekas dan limbah bahan kimia harus dikumpulkan secara terpisah dan harus memperoleh perlakuan khusus karena berbahaya dan beracun.
  5. Sampah dari Industri
    Sampah ini berasal dari seluruh rangkaian proses produksi (bahan-bahan kimia serpihan/potongan bahan), perlakuan dan pengemasan produk (kertas, kayu, plastik, kain/lap yang jenuh dengan pelarut untuk pembersihan). Sampah industri berupa bahan kimia yang seringkali beracun memerlukan perlakuan khusus sebelum dibuang

DAFTAR PUSTAKA

Agung Suprihatin, S. Pd; Ir. Dwi Prihanto; Dr. Michel Gelbert. 1996. Pengelolaan Sampah. Malang : PPPGT / VEDC Malang

Ary Nilandari. 2006. Aku Bisa Menghemat Listrik. Jakarta : Dian Rakyat.

Atasi Defisit Energi Listrik, Indonesia Bisa Gunakan Biomass Sampah Sumber : Media Indonesia (14 Januari 2004)

DKI Perlu Modernisasi Pengolahan Sampah (Republika edisi 18 Agustus 2004),
Sumber foto : www.langsing.net

Sampah Dapat Hasilkan Energi Listrik (www.energi.lipi.go.id edisi 6 Desember 2004)

PENGERTIAN SAMPAH

“Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian barang rusak atau bercacat dalam pembikinan manufaktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan”. (Kamus Istilah Lingkungan, 1994). “Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis.” (Istilah Lingkungan untuk Manajemen, Ecolink, 1996). “Sampah adalah sesuatu yang tidak berguna lagi, dibuang oleh pemiliknya atau pemakai semula”. (Tandjung, Dr. M.Sc., 1982) “Sampah adalah sumberdaya yang tidak siap pakai.” (Radyastuti, W. Prof. Ir, 1996).
Jenis Sampah
Berdasarkan asalnya, sampah padat dapat digolongkan sebagai:
  1. Sampah Organik
    Sampah Organik terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lain. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik. Termasuk sampah organik, misalnya sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah, dan daun.
  2. Sampah Anorganik
    Sampah Anorganik berasal dari sumber daya alam tak terbarui seperti mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri. Beberapa dari bahan ini tidak terdapat di alam seperti plastik dan aluminium. Sebagian zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, sedang sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang sangat lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah tangga, misalnya berupa botol, botol plastik, tas plastik, dan kaleng.

DAFTAR PUSTAKA

Agung Suprihatin, S. Pd; Ir. Dwi Prihanto; Dr. Michel Gelbert. 1996. Pengelolaan Sampah. Malang : PPPGT / VEDC Malang.
Ary Nilandari. 2006. Aku Bisa Menghemat Listrik. Jakarta : Dian Rakyat.
Atasi Defisit Energi Listrik, Indonesia Bisa Gunakan Biomass Sampah Sumber : Media Indonesia (14 Januari 2004).
DKI Perlu Modernisasi Pengolahan Sampah (Republika edisi 18 Agustus 2004),
Sampah Dapat Hasilkan Energi Listrik
(www.energi.lipi.go.id edisi 6 Desember 2004

Sumber foto : www.karir-up.com